
Closed
Posted
Paid on delivery
Genre: Romansa Remaja, Slice of Life, Drama Ringan Satu Bangku di Dekat Jendela Pagi Senin selalu punya cara sendiri untuk membuat siswa malas datang ke sekolah. Begitu pula dengan Raka. Ia berjalan melewati gerbang sekolah sambil menguap, satu tangan memegang tali tas, sementara tangan lainnya menggenggam roti yang belum sempat ia habiskan. “Rak!” Raka menoleh. Dimas, sahabatnya, berlari kecil dari arah parkiran. “Tumben nggak telat,” kata Dimas. “Karena gue bangun lebih pagi.” “Jam berapa?” “Lima.” Dimas terdiam. “Lima pagi?” Raka mengangguk bangga. “Jam lima sore.” “Dasar.” Mereka tertawa dan berjalan menuju kelas. Kelas XI TKJ 2 sudah cukup ramai. Beberapa siswa sibuk mengobrol, sebagian mengerjakan tugas yang baru akan dikumpulkan, sementara yang lain masih menikmati waktu sebelum guru datang. Raka langsung menuju tempat duduknya di dekat jendela. Namun, ada seseorang yang sudah duduk di sana. Seorang siswi bernama Naya. Naya adalah salah satu murid yang cukup dikenal di kelas. Bukan karena ia paling ramai, justru sebaliknya. Ia sering duduk tenang sambil membaca buku atau mengerjakan tugas. “Eh, ini tempat duduk gue,” kata Raka. Naya menoleh. “Bukannya kursinya memang kosong?” “Iya, tapi biasanya gue duduk di sini.” Naya melihat kursi itu, lalu kembali menatap Raka. “Berarti sekarang kita duduk bareng.” Raka terdiam. “Bareng?” “Iya. Kan mejanya panjang.” Dimas yang berdiri di belakang Raka langsung menyenggol bahunya. “Cie.” “Diam.” Naya tertawa kecil. Sejak hari itu, Raka dan Naya sering duduk bersebelahan. Awalnya mereka hanya berbicara tentang pelajaran. “Nomor tiga jawabannya apa?” “B.” “Yakin?” “Yakin.” “Kalau salah?” “Ya salah.” “Terus?” “Ya jangan salah.” Raka hanya bisa menggeleng. Namun, semakin lama, percakapan mereka berkembang menjadi hal-hal kecil lainnya. Tentang makanan kantin. Tentang guru yang sering memberikan tugas mendadak. Tentang film yang sedang ramai dibicarakan. Bahkan tentang cita-cita. Suatu siang, saat jam istirahat, mereka duduk di kantin bersama beberapa teman. Naya membeli es teh, sedangkan Raka membeli mi goreng. “Lo nanti ikut ekskul apa?” tanya Naya. “Belum tahu.” “Katanya mau ikut futsal?” “Dimas yang bilang.” “Jadi?” “Belum tentu.” Naya tersenyum. “Kalau aku ikut klub fotografi.” “Fotografi?” “Iya. Aku suka foto-foto.” “Foto gue juga boleh.” “Kenapa harus kamu?” “Karena wajah gue cocok jadi model.” Naya hampir tersedak minumannya. “Percaya diri banget.” “Namanya juga usaha.” Mereka tertawa. Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Raka mulai mengikuti latihan futsal, sementara Naya aktif dalam klub fotografi. Kadang mereka hanya bertemu beberapa menit di koridor. Kadang Raka melihat Naya membawa kamera melewati lapangan. Kadang Naya melihat Raka duduk di tribun setelah latihan. Tidak ada yang istimewa. Setidaknya, begitulah yang Raka pikirkan. Sampai suatu sore, sekolah mengadakan persiapan acara pentas seni. Setiap kelas harus membuat sebuah penampilan. Kelas Raka memilih pertunjukan musik sederhana. Raka ditunjuk menjadi salah satu pemain gitar. Naya mendapat tugas mendokumentasikan seluruh persiapan. Selama beberapa hari, mereka sering bertemu sepulang sekolah. Sore itu, hujan turun cukup deras. Sebagian siswa sudah pulang. Hanya beberapa anggota panitia yang masih berada di sekolah. Raka sedang membawa beberapa kursi ketika melihat Naya berdiri di depan aula. “Kok belum pulang?” tanyanya. “Masih nunggu hujan reda.” “Bawa payung?” Naya menggeleng. Raka melihat payung hitam yang ia bawa. “Ya udah, nanti bareng.” Naya tampak ragu. “Nggak merepotkan?” “Enggak.” Mereka akhirnya berjalan berdua menuju gerbang. Payung Raka sebenarnya tidak terlalu besar. Mereka berjalan cukup dekat agar tidak terkena hujan. Namun, suasananya terasa canggung. Raka mencoba mencari topik pembicaraan. “Besok latihan lagi?” “Iya.” “Capek?” “Lumayan.” “Kalau capek, istirahat.” Naya tersenyum. “Kamu juga.” Raka mengangguk. Untuk beberapa saat, mereka hanya berjalan ditemani suara hujan. Ketika sampai di gerbang, Naya berhenti. “Makasih, Rak.” “Iya.” Naya kemudian berlari kecil menuju kendaraan yang menjemputnya. Raka berdiri sebentar di tempat. Entah kenapa, senyum kecil muncul di wajahnya. “Kenapa gue senyum?” gumamnya. Dari belakang terdengar suara Dimas. “Karena jatuh cinta mungkin.” Raka langsung menoleh. “Lo dari mana?” “Dari belakang.” “Ngapain ngikutin?” “Memastikan sahabat gue nggak aneh-aneh.” “Berisik.” Dimas tertawa. Namun sejak hari itu, Raka mulai menyadari sesuatu. Ia mulai menunggu kehadiran Naya. Ia senang ketika Naya duduk di sebelahnya. Ia mencari alasan untuk mengobrol. Dan tanpa sadar, ia sering melihat ke arah pintu kelas setiap pagi. Sementara itu, Naya juga mulai terbiasa dengan kehadiran Raka. Namun, keduanya tidak pernah membicarakan perasaan mereka. Sampai suatu hari terjadi kesalahpahaman. Pagi itu, Raka melihat Naya sedang berbicara dengan seorang siswa dari kelas lain bernama Ardi. Mereka tampak akrab. Ardi bahkan memberikan sebuah hadiah kecil kepada Naya. Raka hanya melihat dari jauh. Dimas yang berada di sampingnya berkata, “Kenapa?” “Enggak.” “Wajah lo bilang iya.” Raka mengangkat bahu. Seharian itu ia menjadi lebih pendiam. Saat Naya bertanya tentang tugas, jawabannya singkat. Saat Naya mengajaknya ke kantin, ia menolak. “Kenapa?” tanya Naya. “Lagi nggak pengin.” Naya tampak bingung. Hari berikutnya sama. Hari setelahnya juga. Akhirnya Naya tidak tahan. Saat jam pulang, ia menghampiri Raka yang sedang membereskan tas. “Rak.” “Hm?” “Aku salah apa?” Raka berhenti memasukkan buku. “Enggak.” “Terus kenapa kamu berubah?” Raka diam. Ia sebenarnya ingin menjawab, tetapi merasa malu. Akhirnya ia berkata, “Kemarin aku lihat kamu sama Ardi.” Naya mengerutkan kening. “Terus?” “Enggak apa-apa.” “Kalau enggak apa-apa, kenapa jadi begini?” Raka menghela napas. “Aku cuma mikir... mungkin kamu lebih suka ngobrol sama dia.” Naya terdiam beberapa detik. Kemudian ia tertawa kecil. “Ardi itu kakakku.” Raka membeku. “...Kakak?” “Iya. Dia datang buat ngasih aku kamera bekas. Kamera lamanya.” Raka menatap lantai. Wajahnya memerah karena malu. “Oh.” “Cuma oh?” “Terus harus gimana?” Naya tersenyum. “Ya nggak usah menjauh cuma karena salah paham.” Raka mengangguk. “Maaf.” Naya menerima permintaan maaf itu. Namun sebelum pergi, ia berkata, “Kalau ada yang bikin kamu kepikiran, tanya langsung. Jangan bikin kesimpulan sendiri.” Raka tersenyum. “Iya.” “Janji?” “Janji.” Beberapa hari kemudian, pentas seni akhirnya tiba. Aula sekolah dipenuhi siswa. Lampu panggung menyala, musik terdengar, dan setiap kelas menampilkan pertunjukan masing-masing. Kelas XI TKJ 2 tampil cukup baik. Raka bermain gitar bersama teman-temannya. Di sisi panggung, Naya sibuk mengambil foto. Ketika pertunjukan selesai, Raka turun dari panggung. Naya menghampirinya sambil membawa kamera. “Tadi bagus.” “Serius?” “Iya.” “Foto gue bagus?” “Foto semua orang bagus.” “Berarti foto gue biasa aja?” Naya tertawa. “Kamu tuh.” Mereka berdiri di belakang aula yang mulai sepi. Raka melihat beberapa foto hasil jepretan Naya. Ada foto teman-teman mereka. Ada foto panggung. Ada foto guru. Lalu Raka melihat satu foto dirinya sedang bermain gitar. “Ini bagus,” katanya. Naya mengangguk. “Aku suka yang itu.” Raka menatap foto tersebut. “Kenapa?” “Karena kamu kelihatan senang.” Raka terdiam. Kemudian ia tersenyum. “Aku memang senang.” “Karena tampil?” Raka menggeleng pelan. “Bukan cuma itu.” Naya menatapnya. Suasana mendadak terasa lebih tenang. Raka sebenarnya ingin mengatakan sesuatu. Namun, ia tidak tahu bagaimana memulainya. Akhirnya ia berkata sederhana. “Nay, makasih ya.” “Untuk?” “Udah jadi teman yang baik.” Naya tersenyum. “Cuma teman?” Raka terdiam. Pertanyaan itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Naya lalu tertawa kecil. “Bercanda.” Raka ikut tertawa. Tapi sebelum mereka berpisah, Raka memberanikan diri berkata, “Kalau suatu hari aku mau ngajak kamu jalan setelah sekolah... kamu mau?” Naya tersenyum. “Mau.” “Beneran?” “Iya.” “Besok?” “Besok.” Raka tersenyum lebar. “Deal.” Hari Senin berikutnya, Raka kembali duduk di bangku dekat jendela. Naya datang beberapa menit kemudian. “Pagi.” “Pagi.” Naya meletakkan tasnya. “Jadi nanti pulang sekolah?” Raka mengangguk. “Iya.” “Jangan lupa.” “Enggak bakal.” Bel masuk berbunyi. Guru memasuki kelas dan semua siswa mulai bersiap. Raka membuka buku pelajaran. Di sampingnya, Naya juga mulai menulis. Di luar jendela, matahari pagi menyinari halaman sekolah. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada sesuatu yang luar biasa. Hanya dua remaja yang perlahan belajar mengenal satu sama lain. Tentang bagaimana sebuah persahabatan bisa tumbuh menjadi sesuatu yang lebih berarti. Tentang bagaimana salah paham bisa diselesaikan dengan kejujuran. Dan tentang bagaimana perasaan tidak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata besar. Kadang, cukup dengan menunggu seseorang datang ke kelas. Cukup dengan berbagi payung ketika hujan. Cukup dengan duduk di bangku yang sama. Dan bagi Raka, mungkin semua itu sudah menjadi awal dari cerita yang ingin ia jalani lebih lama. Satu bangku di dekat jendela. Satu teman yang selalu membuat hari-harinya terasa berbeda. Dan satu perasaan kecil yang tumbuh perlahan, tepat di tengah kehidupan sekolah yang sederhana.
Project ID: 40662161
8 proposals
Remote project
Active 5 days ago
Set your budget and timeframe
Get paid for your work
Outline your proposal
It's free to sign up and bid on jobs
8 freelancers are bidding on average $121 USD for this job

Hello, In a bustling high school filled with ordinary days, a chance encounter between Raka and Naya near a classroom window sets the stage for a heartwarming journey of friendship and understanding. As their interactions evolve from discussing schoolwork to sharing moments of laughter and camaraderie, a subtle bond begins to form. However, a misunderstanding threatens to disrupt their growing connection until honesty and communication pave the way for clarity. Through the lens of everyday school life, this story explores the nuances of teenage relationships, highlighting the beauty of simple gestures and the power of genuine companionship. As Raka and Naya navigate the complexities of adolescence, their tale unfolds with authenticity and warmth, reminding us that sometimes, the most profound emotions are expressed through quiet moments and shared experiences. Only payment upon satisfaction with the work is requested. Please feel free to initiate the chat to discuss further details and your vision for this project. Sincerely, Nimra H.
$140 USD in 3 days
0.0
0.0

Hi, I can help transform your story into a polished and engaging piece while maintaining its original emotion, character development, and slice-of-life style. I have experience with creative writing, editing, and improving narrative flow. I can refine dialogue, enhance pacing, strengthen character interactions, and ensure the story remains appealing to teenage readers. I will carefully preserve the core storyline of Raka and Naya while improving readability, consistency, and emotional impact. Ready to start.
$100 USD in 4 days
0.0
0.0

With a deep passion for storytelling and a knack for managing complex relationships, I believe I'm perfectly suited to bring Satu Bangku di Dekat Jendela to life. My extensive experience in content writing and copy editing, coupled with my keen eye for detail, would ensure that your teen romance novel is not only engaging, but also captures the essence of "Slice of Life" in a captivating manner. Moreover, as an ex-Counselor with a Master's in Career Guidance and Information, I am well-versed in the emotional growth and dynamics involved in coming-of-age stories. Seamlessly navigating through the nuances of teenage drama while still keeping it light and relatable - this is my forte. My content will resonate with young readers while providing them valuable insights into friendship, self-discovery, and the power of shared experiences. In addition to my writing skills, I bring technical competencies that would enrich the final product. As a certified Google AI Expert, proficient in digital tools and platforms like Google Workspace and MS Office, I can utilize AI solutions to optimize our collaborative process and deliver an exemplary manuscript within the specified time frame. Trust me to make your project not just another novel of teen drama but one that leaves an indelible mark on its readers' hearts. Let's create magic together!
$120 USD in 6 days
0.0
0.0

Halo, Saya tertarik untuk membantu menulis novel remaja dengan genre drama ringan. Saya memiliki ketertarikan yang kuat pada storytelling dan penulisan kreatif, terutama dalam membangun karakter, dialog yang terasa natural, serta konflik yang relatable bagi pembaca muda. Saya dapat membantu mengembangkan cerita dengan alur yang ringan namun tetap memiliki emotional depth, termasuk hubungan antar karakter, friendship, romance, konflik keluarga, maupun masalah kehidupan remaja sehari-hari. Saya juga terbuka untuk mengikuti outline, gaya penulisan, karakter, dan arahan yang sudah Anda tentukan. Jika diperlukan, saya dapat membantu mulai dari pengembangan ide dan karakter hingga penulisan serta revisi naskah. Saya siap mendiskusikan konsep dan target yang Anda inginkan terlebih dahulu agar hasil tulisan sesuai dengan visi proyek. Terima kasih, dan saya berharap dapat bekerja sama dengan Anda.
$134 USD in 7 days
0.0
0.0

As an experienced writer specializing in Creative Writing and Fiction, I deeply understand the nuance needed for Indonesian Romansa Remaja (Teen Romance) and Slice of Life storytelling. The sample snippet you provided has a wonderful, organic flow—capturing adolescent awkwardness, subtle humor, and genuine emotional beats (like Raka and Naya's interactions at the window and during the school festival). Why I am the best candidate for this project: Genre Expertise: I have a strong command of Indonesian creative writing, specifically crafting realistic school-life dynamics, natural dialogues, and slow-burn romantic tension. Character & Pacing: I focus on showing rather than telling, ensuring that character growth—like Raka and Naya's developing bond—feels earned and emotionally resonant. Professional Reliability: I am meticulous with grammar, spelling, and tone, delivering engaging, polished prose well within your deadline. I am ready to bring this heartwarming story to life. Let’s create something memorable for your readers!
$100 USD in 7 days
0.0
0.0

"I am a writer. Storytelling is my strength. I can complete this task quickly while still delivering the artistic depth that makes it shine. Would you be willing to entrust this to me? Thank you.
$150 USD in 3 days
0.0
0.0

Hi, I’d love to continue this story. I read the provided chapter carefully, especially the relationship between Raka and Naya, the casual teenage dialogue, and the slice-of-life atmosphere. I would continue the story while keeping the same light YA romance tone rather than introducing unnecessary dramatic twists. I would also make sure the continuation remains consistent with the established personalities and events. I can provide a sample continuation first so you can evaluate the writing style before proceeding with the full assignment. I’m comfortable working with feedback and revising the chapter according to your preferred direction. I’ve included a sample continuation below. Sepulang sekolah, Raka berdiri di depan gerbang sambil memeriksa ponselnya untuk ketiga kalinya. Dimas yang berdiri di sampingnya mulai merasa heran. “Lo nunggu siapa?” “Enggak siapa-siapa.” “Terus kenapa dari tadi lihat HP?” “Jam.” “Jam di HP lo dari tadi nggak berubah.” Raka menatap layar. “Baterainya juga masih delapan puluh persen.” Dimas menghela napas. “Gue tahu siapa yang lo tunggu.” “Siapa?” “Naya.” Raka memasukkan ponselnya ke saku. “Berisik.” Dimas tertawa. “Ya udah. Gue pergi dulu.” “Mau ke mana?” “Biar lo nggak jadi obat nyamuk.” “Apaan sih.”
$80 USD in 3 days
0.0
0.0

Perasaan itu seperti tunas yang baru muncul. Ia akan tumbuh ketika terus dirawat dan dipupuk. Kadang juga akan layu jika sedang kehausan di tengah cuaca yang terik. Hai, aku tertarik melanjutkan novelmu. Bagaimana denganmu?
$140 USD in 7 days
0.0
0.0

Bandung, Indonesia
Member since Aug 21, 2026
$30-250 USD
$30-250 USD
₹750-1250 INR / hour
£250-750 GBP
₹750-1250 INR / hour
₹12500-37500 INR
₹750-1250 INR / hour
₹12500-37500 INR
$5000-10000 USD
₹750-1250 INR / hour
$10-30 USD
$15-25 USD / hour
₹400-750 INR / hour
₹750-1250 INR / hour
€250-750 EUR
₹600-1500 INR
$10-30 USD
₹600-1500 INR
$10-30 USD
₹600-1500 INR
$10-30 USD